MEMPERINGATI HARI IBU MENURUT ISLAM
Di Indonesia hari Ibu di peringati setiap tanggal 22
Desember dan di tetapkan sebagai perayaan Nasional. Sebuah peringatan terhadap
peran seorang perempuan dalam keluarganya, baik itu sebagai istri untuk
suaminya, ibu untuk anak-anaknya, maupun untuk lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebas
tugaskan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan
kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.
Namun
ada pendapat lain yang mengatakan bahwa perayaan hari ibu tak semestinya harus
di rayakan atau di lakukan bagi muslim, sebab larangan memperingati hari ibu
bagi muslim sebagai berikut :
1.
Tasyabbuh dengan orang kafir
Peringatan hari ibu bukanlah perayaan
umat Islam. Islam tidak pernah mengajarkannya sama sekali. Yang ada, perayaan
tersebut diperingati hanya meniru-niru orang kafir. Islam hanya memiliki dua
hari besar. Anas bin Malik mengatakan, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki
dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang
ketika itu. Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu
kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah
menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan
Idul Adha.” (HR. An Nasa’i no. 1557)
2.
Tidak pernah dituntunkan
dalam ajaran Islam
Perayaan
tersebut adalah perayaan yang mengada-ngada, tidak pernah dituntunkan oleh
Rasulullah dan para sahabatnya. Mereka
adalah orang-orang terbaik di masa salaf, namun tidak pernah memperingati hari
tersebut. Jadi, peringatan tersebut bukan ajaran Islam. Guru kami, Syaikh
‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifi hafizhohullah berkata,
“Perayaan hari Ibu adalah perayaan dari barat. Mereka orang-orang kafir di sana
punya perayaan hari ibu, juga ada peringatan hari anak. Kita selaku umat Islam
tidak butuh pada peringatan hari Ibu karena Allah SWT
sudah memerintahkan kita untuk berbakti pada ibu kita dengan perintah yang
mulia. Begitu pula Nabi Mugammad SAW pernah
ditanya, siapakah yang lebih berhak bagi kita untuk berbakti. Nabi Muhammad WAS menjawab, ibumu, ibumu, ibumu
lalu bapakmu. … Intinya, kita selaku umat Islam tidaklah butuh pada peringatan
hari ibu. Karena kita diperintahkan berbakti pada ibu setiap saat, tidak perlu
bakti tersebut ditunjukkan dengan peringatan dan semisal itu. Intinya,
peringatan tersebut tidaklah dituntunkan dalam Islam dan seorang muslim sudah
sepantasnya tidak memperingatinya.”
3.
Istri Punya Kewajiban
Bakti pada Suami
Jika
yang diperingati pada peringatan hari ibu adalah membebastugaskankan ibu dari
tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti
memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya, maka ini pun keliru.
Karena berbaktinya istri pada suami dalam mengurus rumah tangga adalah suatu
kewajiban. Bagaimana kewajiban ini jika dilalaikan hanya karena ada peringatan
hari ibu? Padahal istri yang taat suami adalah wanita yang paling baik. Dari
Abu Hurairah RA, ia berkata, Pernah ditanyakan kepada
Rasulullah SAW, “Siapakah
wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu
yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah,
dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci”
(HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251)